logo web baru

BROWSING: Pengalamanku

Maria Subandi : “Kini saya tidak memerlukan obat tidur lagi”

26 Aug 2016 0 comment

Insomnia yang sudah saya derita sekitar empat tahun, ternyata bisa sembuh setelah saya meluruskan pola makan, hanya dalam waktu tiga hari !

Sampai detik ini, saya seakan belum percaya bahwa saya telah terbebas dari gejala sulit tidur. Kedengarannya memang mustahil. Bagaimana mungkin, penyakit insomnia yang bertahun-tahun saya derita itu bisa sembuh tanpa obat, dalam hitungan hari pula. Semua ini berkat panduan seorang dokter yang mengubah pola makan saya. Rasanya dunia saya normal kembali.

Malam-malam yang menyiksa

Jika Anda pernah terjaga semalaman, pasti Anda  bisa membayangkan betapa tersiksanya orang yang sulit tidur. Sepanjang malam, pikiran dan mata terjaga, walau badan sudah letih tergolek di tempat tidur. Saya berguling ke kiri-kanan, minum susu hangat seperti yang dianjurkan teman-teman, memutar musik lembut, meredupkan lampu kamar. Toh, itu semua belum  mampu melenakan kesadaran saya.   

Para penghuni rumah yang lain -- suami dan kedua anak saya -- sudah berusaha keras menemani saya, tetapi kemampuan tubuh mereka untuk tetap terjaga ada batasnya. Biasanya menjelang tengah malam, mereka sudah tumbang. Dunia sekeliling saya terlelap, tetapi saya tetap sadar dan segar.

Anehnya, dalam kondisi seperti ini kewaspadaan saya justru makin tajam. Suara detak jarum jam, juga deru kendaraan yang melintas di bawah sana -- saya tinggal di lantai 23 sebuah apartemen di kawasan pusat Kota Jakarta -- terdengar semakin keras. Bahkan, langkah kaki dan aktivitas  penghuni lain di lantai atas terdengar makin mengusik. Saya keluar kamar tidur dan hilir mudik di antara pantry dan ruang keluarga, membaca buku, melantunkan doa -- tetapi semua kegiatan ini tidak juga mampu meletihkan otak saya. Mata saya tetap terbuka lebar sampai terdengar sayup-sayup  suara  adzan subuh dari masjid.

Ketika matahari terbit, badan saya semakin letih karena otak yang terus aktif sepanjang malam.  Sesekali saya bisa terlelap sejenak, namun  telinga saya tetap bisa  menangkap samar-samar suara kesibukan suami yang sedang  bersiap untuk berangkat ke kantor. Saya pun terjaga lagi, lalu bangun dan membantunya menyiapkan sarapan dan keperluannya untuk aktivitasnya pada pagi hari itu.  Begitupun, sepanjang siang saya tetap sulit memicingkan mata sampai suami dan anak-anak pulang. Dan malamnya, adegan yang sama berulang kembali.

Bisa dipahami bahwa dalam setahun terakhir ini tubuh saya semakin tidak karuan. Jika orang-orang lain memulai hari dengan segar bugar dan energi baru, saya justru sebaliknya -- keletihan. Saya jadi sering pusing, mual, dan berkeringat dingin. Saya semakin tersiksa karena belakangan muncul rasa sakit seperti ditusuk-tusuk di dada sampai punggung; saya juga sering sesak napas. Wah…jangan-jangan jantung saya mulai kena, pikir saya.

Bermula dari menopause

Saya sudah sering mendengar dan membaca tentang gejala yang menyertai menopause, misalnya  hot flash, sakit-sakit di tulang, gatal-gatal sekujur badan, mood-swing -- suasana hati yang tidak menentu.  Saya mengalami gejala-gejala tersebut setelah berhenti menstruasi pada usia 49 tahun. Menopause pada saya datang mendadak: tanpa aba-aba saya tidak haid dan pada bulan-bulan selanjutnya saya tidak menstruasi lagi.

Meski tidak mengalami menstruasi lagi, awalnya saya tidak merasakan perubahan yang berarti. Bersama kawan-kawan di lingkungan tempat tinggal di kawasan Cikarang saya aktif berolahraga di klub kebugaran Ade Rai yang membuka cabang di sana. Minimal dua kali dalam seminggu saya berlatih bersama kawan-kawan di gym: angkat beban, aerobik, plus aneka senam yang sedang tren.  Semangat saya bertambah karena dalam klub tersebut Ade Rai juga mengajarkan cara mengatur pola makan untuk mempertahankan berat badan ideal. Program ini sangat menyenangkan karena kami lakukan bersama-sama. Bahkan saat itu, saya sampai minta dipandu oleh seorang personal trainer karena ingin mendapat hasil yang optimal.

Puji Tuhan, selama ini saya, suami, dan anak-anak selalu dilimpahi kesehatan dan perlindungan-Nya. Saya jarang sakit, hanya sesekali kena flu. Saya dan suami juga rajin melakukan check up kesehatan secara rutin, biasanya 6 bulan sekali, dan general check up setahun sekali. Hasilnya selalu baik.

Beberapa bulan setelah mens berhenti, saya memang mulai merasakan ngilu sendi di lutut, banyak berkeringat, dan  pusing. Tapi gejala ini saya anggap biasa yaitu bagian dari menopause, jadi saya terima saja. Toh, banyak wanita lain yang mengalami seperti ini. Lama-lama juga akan terbiasa.

Gejala sulit tidur mulai muncul pada saat yang hampir bersamaan. Suami lalu rajin membelikan saya buku-buku sebagai teman menunggu kantuk di malam hari.

Pindah rumah, dan gejala makin parah

Setahun lalu, agar lebih dekat ke tempat aktivitas anak-anak, kami memutuskan untuk pindah rumah ke sebuah apartemen di kawasan pusat kota. Fasilitas di tempat tinggal saya yang baru ini sangat lengkap sehingga semua kebutuhan dan aktivitas sehari-hari bisa dilakukan di satu tempat. Pekerjaan rumah juga menjadi lebih sederhana, karena jasa kebersihan dan laundry juga sudah diurus oleh pengelola apartemen. Jadi tanpa pembantu pun hidup kami tetap nyaman. Satu kehilangan yang kami rasakan setelah pindah tempat tinggal  adalah  suasana kebersamaan dengan tetangga.

2 pengalamanku

Di tempat tinggal kami yang baru ini saya memang sedang menyesuaikan diri dan berusaha mengenal penghuni lain. Saya masih merasa beruntung karena setiap hari Minggu saya bisa berkeliling ikut suami yang memberikan pelayanan untuk umat di gereja-gereja. Dalam kesempatan tersebut saya bisa bertemu teman-teman baru

Setahun terakhir ini, selain berat badan saya naik -- menjadi 62 kilogram, sebelumnya stabil pada 52 kilo – insomnia saya terasa makin menjadi masalah. Melek sepanjang malam sebenarnya sudah saya alami sejak 4 tahun lalu. Tapi setahun terakhir, “kebiasaan” saya ini mulai membebani pikiran saya. Setiap hari saya dibayangi rasa takut, bagaimana jika esok malam  saya tidak bisa tidur lagi.  Perasaan ini semakin mendalam, dan ... menjadi kenyataan.  Setiap malam saya terjaga dan sepanjang siang saya letih dan uring-uringan.  Dan yang paling menakutkan adalah gejala sakit dada dan sesak napas yang sering saya rasakan belakangan ini.

Suami lalu mengajak saya memeriksakan diri ke rumah sakit dan menjalani pemeriksaan dan tes darah  lengkap.  Saya juga dirujuk untuk pemeriksaan paru-paru mengingat gejala sesak napas yang sering saya rasakan.  Dokter juga menyarankan saya tes hormon dan pap-smear. Hasilnya, hormon kewanitaan memang sangat menurun setelah saya mengalami menopause.

Dokter menawarkan saya terapi sulih hormon. Tapi, kami memutuskan untuk tidak menjalani terapi tersebut. Dokter lalu meresepkan melatonin yang  harus saya minum setiap malam.

Kenyataannya, obat tersebut tidak bisa mengatasi kesulitan saya. Saya tetap terpaksa bergadang setiap malam sampai, akhirnya, datang pertolongan Tuhan lewat seorang teman sekantor suami.

Jatuh cinta pada selada

Teman suami itu memberi alamat dokter Tan Shot Yen. Suami berinisiatif mengajak saya berkosultasi pada Dr Tan di kawasan BSD, Serpong. Menurut info temannya, dokter ini mempunyai terapi yang didasarkan pada pola makan, bukan obat-obatan.

Dr Tan Shot Yen pengalamnku minBenar, setelah bertemu, mendengarkan, dan menanyakan beberapa hal terkait dengan problem saya, dokter tak menuliskan resep obat apa pun.  Dokter hanya meminta saya untuk mengubah pola makan saya, mengikuti cara makan yang disarankan untuk pasien-pasien lainnya.  Cara makan ini disesuaikan dengan kebutuhan badan saya, bukan untuk memenuhi rasa lapar dan selera lidah semata.  Hal prinsip yang dianjurkan dokter Tan, agar saya kembali tertib berolahraga.

Dalam praktiknya, kami  berdua -- suami juga mengikuti cara makan baru ini -- tidak makan nasi lagi, termasuk beras merah dan sumber karbohidrat yang biasa dikonsumsi, seperti kentang, roti, singkong, umbi-umbian, dan pasta. Kebutuhan karbohidrat dipenuhi dari sayuran segar: daun selada, mentimun, tomat,  dan buah-buahan yang tidak manis (pir, apel, alpukat).  Sedangkan, kebutuhan protein dipasok dari daging ayam, ikan, putih telur, dan kacang-kacangan. Sumber lemak hanya dari lemak baik, jadi kami tidak makan makanan gorengan lagi.

Kami juga berusaha menghindari makanan yang mengandung food-additives, seperti bahan pengawet, pewarna, penyedap. Kami juga mencoba untuk tidak makan makanan olahan dan hanya makan makanan dalam bentuk seasli dan sesegar mungkin. Dokter juga menganjurkan kami untuk mengonsumsi suplemen omega-3 dengan dosis lebih besar dari dosis kami selama ini.

Saya dan suami menjalaninya tanpa kesulitan yang berarti. Toh, saat tergabung di klub kebugaran dulu, saya sudah terbiasa dengan cara makan seperti ini. Bedanya, kini  saya tidak makan nasi lagi. Sebagai gantinya, belanja sayuran menjadi lebih banyak. Maklum, sayuran ini kan jadi pengganti nasi saya. Pemandangan isi kulkas saya pun jadi berubah serba hijau segar dan dapur saya relatif lebih bersih karena saya tidak masak dengan menggoreng lagi. Kebiasaan lain, setiap pagi saya berjalan berkeliling taman ditemani suami dan sesekali saya mampir ke gym untuk ikut kelas aerobik.

Betapa kagetnya saya ketika, hanya dalam waktu tiga hari, untuk pertama kali saya bisa terkantuk-kantuk selagi masih duduk di sofa, pada sekitar pukul 10 malam. Tadinya saya kira ini suatu kebetulan saja. Tapi, rasa mengantuk ini saya rasakan lagi pada malam-malam berikutnya. Dalam seminggu saya sudah menemukan kembali jadwal tidur saya yang berantakan selama sekitar lima tahun. Kini, sudah sekitar tiga bulan lamanya saya menikmati tidur nyenyak.

Puji syukur, kejadian ini jelas menjadi pelajaran penting buat saya. Daun selada yang selama ini hanya saya lirik saat saya perlu lalapan, ternyata bisa menjadi ‘obat’ sekaligus membantu menyelesaikan kesulitan yang telah membelit saya selama bertahun-tahun. Bonusnya, berat badan saya juga turun dengan sendirinya -- selama 3 bulan menjalani cara makan ini berat badan turun 7 kilo.

Suami juga merasa lebih fit dan berenergi setiap hari. Ternyata alam sangat bermurah hati pada kami, karena hanya dengan sayuran dan buah segar ‘penyakit’ terobati. Selanjutnya kebahagiaan ini kami sebarkan pada kerabat dan teman-teman dekat.

Saya menjadi  lebih bersemangat menjalankan cara makan dominan sayur segar ini.  Saya juga  yakin telah menemukan cara hidup -- pola makan, beraktivitas, dan cara mengelola pikiran -- yang sesuai dengan  kebutuhan saya pada umur sekarang. Rasanya, tak mungkin lagi saya keluar jalur yang  baru saya temukan setelah saya melewati malam yang sangat menyengsarakan selama bertahun-tahun. (N)

 

Bukan terapi, sekadar mengembalikan tubuh manusia pada fitrahnya,Dr Tan Shot Yen, MHum

Dalam proses biologi, tak ada pola yang baku. Segala sesuatu bisa terjadi, termasuk proses menopause. Ada menopause yang datang secara bertahap dan perlahan-lahan -- didahului oleh premenopause yaitu sejak  jauh-jauh hari datangnya menstruasi sudah tidak teratur. Ada juga menopause yang mendadak sontak, langsung menstruasi tidak datang lagi untuk  seterusnya, seperti yang dialami oleh  Bu Maria.

Saya membantu memulihkan kesehatan Bu Maria dengan sekadar mengembalikan kondisi tubuhnya pada fitrah atau kodrat kemanusiaannya, termasuk  makanan yang seharusnya dikonsumsi  sesuai dengan umur dan kebutuhan organ tubuhnya.

Yang saya lakukan bukan terapi atau pengobatan, karena menopause bukan kondisi sakit yang memerlukan penyembuhan.  Menopause, bagi saya, justru merupakan periode "The glory of women at their wise age”. Jika disikapi dengan bijaksana, tak mustahil wanita yang bersangkutan akan menemukan pencerahan. Dalam hal pola makan, makanlah  apa yang dibutuhkan oleh tubuh, bukan semata-mata untuk memenuhi keinginan  lidah.

Pemulihan paling sempurna hanya bisa terjadi jika tubuh manusia dilihat dan ditangani secara keseluruhan—meliputi semua aspeknya—yaitu fisik, pikiran/ emosi, spiritual. Obat penenang bukanlah obat ajaib yang  bisa memberikan rasa aman atau tidur nyenyak kepada kita. Sama seperti uang, yang barangkali bisa dipakai untuk membeli kosmetik, tapi tidak bisa membeli kecantikan; bisa membeli "a house", but not " a home"; bisa membeli makanan, tapi tidak bisa membeli nafsu makan; bisa membeli seks, tapi bukan cinta...

Pentingnya selalu bergerak

Bagaimana dengan kebiasaan berolahraga? Olahraga atau bergerak, menuntut energi. Energi bukan semata-mata tenaga yang berasal dari makanan dan menghasilkan kekuatan. Secara ilmiah, energi bisa dijabarkan sebagai getaran gelombang elektromagnetik yang menggerakkan bukan hanya  anggota tubuh - yaitu yang tampak - melainkan juga kondisi emosional seseorang  (baca: pikiran yang sehat atau yang penuh melodrama) yang  memengaruhi respons otak (Feinstein, D. et al. 2005. “Your Electric Brain” dalam The Promise of Energy Psychology. New York : Penguin Group. Inc.).  Ini erat hubungannya dengan masalah menopause dan semua liku-likunya termasuk sulit tidur.

Olahraga bisa merangsang otak menghasilkan BDNF (Brain Derived Neurotropic Factor), yaitu substansi yang melindungi saraf, membantu transmisi saraf, memiliki aktivitas antidepresi dan menormalkan struktur otak. Dengan kata lain, BDNF mampu mencegah kematian sel saraf pada kondisi depresi. Orang-orang yang berolahraga, rajin bergerak, rutin beraktivitas fisik secara aktif, bukan hanya tidak terserang pikun atau penuaan dini, tapi juga terlindung dari masalah depresi.   

Kuncinya  adalah enzim

Alasan utama kita mengonsumsi raw food (makanan mentah, tidak dimasak) adalah enzim!  Enzim bukan vitamin, bukan hormon, bukan mineral.  Di dalam enzim terdapat protein, sebagai carrie' (pembawa zat/faktor aktifnya). Enzim adalah inti kehidupan  yang membuat vitamin, mineral, hormon mampu bekerja.

Enzim juga  bukan sekadar berfungsi sebagai perantara proses reaksi kimia tubuh, ia ikut bereaksi. Enzim ibarat faktor energi dari sebuah batu baterai yang terbuat dari lempeng logam  dan karbon. Enzim bisa diibaratkan tenaga kerja atau labor force yang memungkinkan terlaksananya proyek pembangunan sebuah konstruksi atau gedung.

Percuma saja kita memiliki batu bata, semen, tiang pancang, bahkan besi beton begitu banyak bila tidak ada  tenaga kerja yang membangunnya. Ibarat  batu bata, semen dan material lain, asupan gizi adalah material yang dibutuhkan tubuh, sedang enzim adalah energi yang memungkinkan semuanya tersusun  rapi sesuai cetak biru yang diharapkan.   

Manusia mewariskan sejumlah potensi enzim sejak lahir. Enzim yang merupakan energi kehidupan ini harus tetap ada sepanjang hayat dikandung badan. Kita akan tetap hidup selama tubuh kita memiliki aktivitas enzim dan selama kita mampu memperbarui produksinya. Sayang, banyak orang tak sadar bahwa pada setiap aktivitas kehidupan terjadi pemborosan enzim, termasuk ketika kita mengonsumsi makanan yang dimasak.

Dengan makan makanan matang sebagai porsi terbesar menu sehari-hari, manusia akan membebani tubuhnya sendiri untuk mensuplai lebih banyak enzim ke liur, cairan lambung, cairan pancreas, dan cairan usus. Akibatnya, tubuh tidak cukup memproduksi enzim lain yang dibutuhkan untuk kerja otak,  jantung, ginjal, paru, otot, dan semua jaringan tubuh lain yang juga membutuhkan enzim.  

Sebaliknya, jika kita mengonsumsi  raw food,  bahan makanan yang mentah itu masih mengandung banyak  enzim  yang akan memecah dirinya sendiri (self-digesting) sehingga kita tidak memboroskan sebagian besar enzim pencernaan kita!

Pelajaran dari bangsa Eskimo

Bagi sebagian besar orang, paradigma ini akan terdengar seperti cara pandang baru mengenai pencernaan. Padahal, orang Neanderthal yang  hidup 50.000 tahun yang lalu sudah mengenal api dan  menggunakan api secara luas untuk mematangkan makanannya. Bahkan beruang yang dipelihara dalam gua dan makan sisa-sisa makanan mereka, melalui penelitian fosil terbukti bahwa ‘binatang peliharaan’ itu menderita penyakit seperti ‘tuan’nya: radang sendi!

Sementara itu di belahan bumi yang lain, bangsa Eskimo yang primitif, disebutkan oleh salah satu literatur  sebagai kelompok manusia yang  tidak mempunyai  riwayat penyakit  kronik  dan radang sendi. Mereka umumnya adalah pemakan raw food. Kata “Eskimo” sendiri berasal dari budaya Indian dan berarti  “dia yang makan makanan mentah”.

Sudah banyak hasil studi yang memperlihatkan bahwa penurunan kadar enzim tubuh ditemukan pada banyak penyakit kronik seperti alergi, gangguan kulit, bahkan penyakit serius seperti diabetes dan kanker. Juga ada indikasi konsumsi pangan yang tanpa enzim (artinya sudah dimasak sampai matang) berkontribusi atas membesarnya kelenjar hipofisis. Padahal, kelenjar dalam otak ini adalah  regulator  bagi produksi hormon di seluruh kelenjar hormon manusia, termasuk kelenjar pankreas dan reproduksi.(N)

 

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found