logo web baru

BROWSING: Laporan Khusus

Ngakunya sih, Back To Nature. Tapi Kok…

18 Jan 2018 0 comment

Manusia adalah bagian dari alam. Maka ia akan sehat dan sejahtera jika mampu menyelaraskan hidupnya dengan mekanisme alam.

Mengutip data WHO (2005), sekitar 80% penduduk dunia pernah menggunakan obat herba. Di Indonesia, jamu sebagai bagian dari obat herba atau ramuan telah diterima dan digunakan secara luas oleh masyarakat dalam rangka pemeliharaan kesehatan. Tahun 2010 yang lalu, Departemen Kesehatan melakukan riset mengenai pemanfaatan jamu di Indonesia. Hasilnya, sekitar 59,12 persen penduduk Indonesia pernah mengonsumsi jamu. Dari jumlah tersebut, sebanyak 95,6 persen mengaku merasakan manfaatnya.
Oleh banyak kalangan, penelitian tersebut dianggap angin segar. “Ini menunjukkan bahwa orang sekarang lebih suka back to nature. Baguslah, itu. Pupuk saja sudah ganti kompos. Masa untuk kesehatan kita masih pakai obat kimia,” komentar Wisnu (43 tahun), pengusaha yang berdomisili di Jakarta.

Paradigma masyarakat yang sudah bergeser pada konsep kembali ke alam memang menggembirakan. Sayangnya, masih banyak yang memahami  back to nature sebatas memanfaatkan material dari alam. Seperti pengakuan Andhini (31 tahun), penulis di Jakarta, yang sempat anti ”obat kimia” dan herbal minded, tapi pola makan dan gaya hidup masih semaunya. ”Pantas saja saya tetap sakit-sakitan,” sungutnya.

Serupa tapi tak sama, pengalaman Asti (34 tahun, bukan nama sebenarnya), ibu rumah tangga di Cibubur. Empat tahun terakhir, ia terobsesi dengan segala macam produk berlabel alami. ”Setiap belanja bulanan, saya menyetok kosmetik, perawatan wajah, pengharum ruangan, sampai makanan dan minuman kesehatan yang diklaim alami seperti sari kurma dan jus botolan. Belakangan saya tersadar, mana ada bahan alami bisa bertahan di dalam kemasan. Sudah berbeda jauh dari bentuk aslinya pula! Rupanya, yang mesti kembali ke alam justru cara berpikir saya, hehehe...”, tuturnya, sambil tertawa.

Selaras dengan alam
Fitrah manusia adalah menjaga keseimbangan alam. Kondisi tubuh kita akan seimbang dan sehat apabila apa yang kita makan selaras dengan sifat-sifat alamiah sistem pencernaan dan sesuai dengan bagaimana Sang Pencipta merancang tubuh kita. Namun disadari atau tidak, seiring perkembangan teknologi dan arus modernisasi yang cenderung serba praktis dan instan, pola makan kita sudah berubah drastis. Dari makanan segar beralih ke serba olahan, hingga mengandalkan hidrat arang olahan sebagai sumber energi. Penurunan kualitas gizi makanan ini harus ditambah dengan gaya hidup yang tidak sesuai dengan ritme alam, sehingga terjadin penimbunan zat-zat pencetus timbulnya macam-macam penyakit.

Atas dasar itulah, slogan back to nature dicanangkan. Konsep kembali ke alam yang mulai bergaung di tahun 1990-an ini mengajak manusia untuk kembali menyadari bahwa manusia merupakan bagian dari alam, sehingga perlu menyelaraskan hidup dengan mekanisme alam.  “Jadi, bukan hanya tentang obat-obatan, atau memanfaatkan bentuk materialnya saja, namun yang lebih penting justru memahami hakikatnya untuk mencegah penyakit dan merawat kesehatan,” ungkap Dr Aldrin Neilwan, P, SpAk, MARS, MBiomed, MKes, Sekjen Perhimpunan Dokter Herba Medis Indonesia (PDHMI) di Jakarta.

Konsep mulia ini mulai menjadi salah kaprah ketika kalangan industri mulai memanfaatkan slogan back to nature dalam mempromosikan produknya. Mulai dari produk perawatan kecantikan, rumah tangga, suplemen, jamu, hingga makanan dan minuman dalam kemasan. Sebagian di antaranya menggunakan cara pemasaran yang menyalahi etika seperti memasang klaim-klaim yang masih sulit dipertanggungjawabkan, atau menjelek-jelekkan obat-obatan medis dengan alasan mengandung bahan kimia berbahaya.
Wajar, jika seruan kembali ke alam lebih sering dipahami sebagai anti ”bahan kimia”. Padahal, Ir Yuli Widiastuti, MP, Kepala Bidang Pelayanan Penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (Balittro), Solo, mengingatkan, sejatinya semua benda dalam alam semesta ini merupakan struktur kimia. ”Obat-obatan farmasi memang menggunakan bahan kimia. Tetapi yang perlu diperhatikan, bahan kimia yang digunakan umumnya sudah diteliti dan diatur dosisnya agar dapat digunakan sesuai manfaatnya,” jelasnya.

Lagipula apabila kita kembali pada pengertian zat kimia, zat kimia tersebut ada yang alami dan buatan. Obat-obatan farmasi bisa menggunakan bahan kimia alami. Di saat yang sama, agar memiliki efek farmakologis, sebuah tanaman obat juga harus memiliki senyawa kimia tersendiri. ”Nah, efek farmakologi ini memiliki dua sisi. Ia bisa menguntungkan, bisa juga merugikan. Agar menguntungkan, penggunaannya harus tepat manfaat (sesuai indikasi), tepat bahan, tepat cara pengolahan, tepat dosis, serta tepat waktu mengonsumsi. Itu sebabnya, sebelum mengonsumsi herba dianjurkan untuk berkonsultasi pada ahlinya terlebih dahulu”, Yuli menambahkan.

Ayo lakukan, sekarang
Sementara itu, Dr Tan Shot Yen, MHum, penulis buku “Saya Pilih Sehat dan Sembuh: Transformasi Paradigma Mengobati menjadi Menyembuhkan”, menilai, mengambil sepotong penjelasan isu back to nature - tanpa diiringi pemahaman yang cukup mengenai tubuh manusia – bisa berbahaya.

Manusia disebut hidup seutuhnya bukan hanya berdasarkan berfungsinya organ-organ tubuh. Menangani tubuh yang sakit dengan pendekatan holistik tidak akan pernah melalui jalur mekanistik-instrumentalis atau mengandalkan produk secara instan. “Apa yang kita lakukan ketika tekanan darah naik? Gula darah melonjak? Nyeri kepala tak kunjung reda? Asam urat bertambah parah? Menghilangkan gejala bukan berarti penyakitnya sembuh. Mencoba mematikan alarm tubuh manusia dengan obat-obatan (yang mengklaim paling alami sekalipun!) tanpa berusaha mencari tahu dan membereskan akar masalahnya adalah percuma, bahkan bisa mengundang risiko yang lebih fatal,” tegasnya.

Menjadi takut dan buru-buru mencari “obat” bukanlah penyesuaian dan usaha untuk menyeimbangkan diri dengan alam. “Melainkan, masuk ke dalam perangkap investasi yang disebut marketing of fear. “Kita takut patah tulang, takut mengalami serangan jantung dan mengidap kolesterol. Tapi di saat yang sama, tidak takut untuk mengisi lambung dengan makanan yang tidak diperlukan tubuh. Sudah saatnya kita waspada, dan… berubah,” Dr Tan menyarankan.

1. Sayur dan buah sebagai sumber karbohidrat
Utamakan untuk mengonsumsi makanan yang diperlukan oleh tubuh, bukan sekadar apa yang kita doyan. Meskipun sudah berevolusi selama ribuan tahun, penelitian menunjukkan bahwa sesungguhnya DNA manusia modern dan manusia purba adalah 99,99 persen sama. Artinya, idealnya bentuk dan jenis makanan yang dikonsumsi juga tidak jauh berbeda.

“Berhenti menjadikan beras sebagai sumber karbohidrat. Manusia tidak dilahirkan dengan tembolok. Memaksakan diri makan beras sama saja dengan menyalahi hukum alam,” tutur Dr Tan. Sebagai gantinya, jadikan sayur mayur dan buah segar sebagai sumber karbohidrat. Padukan bersama lauk pauk yang diolah minimalis, namun kaya bumbu alami sehingga tetap menggoyang lidah seperti pepes tahu, ikan, atau jamur, dengan tetap memenuhi prinsip gizi seimbang.

2. Sesuaikan dengan ritme biologis
Jika belum cukup percaya diri untuk sepenuhnya mengganti peran beras dan zat pati lainnya sebagai sumber karbohidrat, sesuaikan waktu mengonsumsinya dengan siklus kerja organ pencernaan. Meskipun bekerja secara non-stop selama 24 jam, setiap fungsi tubuh memiliki siklus tersendiri. Pada sekitar pukul 4 pagi hingga 12 siang, misalnya, tubuh fokus pada proses pembuangan. Pukul 12 siang hingga 8 malam fokus pada  proses pencernaan, dan mulai pukul 8 malam hingga 4 pagi fokus pada proses penyerapan sari-sari makanan.

Itu sebabnya, untuk mendukung proses pembuangan sebaiknya kita mengonsumsi makanan yang energinya siap pakai namun mudah dicerna seperti buah- buahan. Sementara untuk mendukung kerja pencernaan, kombinasi makanan yang dikonsumsi pada proses selanjutnya perlu diperhatikan. Zat pati dan protein hewani yang cenderung bersifat asam, misalnya, sebaiknya hanya dikombinasikan dengan bahan makanan yang cenderung basa berupa sayur-sayuran atau protein nabati lainnya. Selain itu, beraktivitaslah sesuai pergantian siang dan malam. Gunakan malam hari untuk tidur, karena itulah puncak waktu tubuh memproduksi hormon metabolisme yang berperan penting dalam proses regenerasi, recovery, serta revitalisasi sel. Jika produksinya terganggu, metabolisme menjadi tidak optimal.

3. Lupakan gula olahan
Manusia cukup memperoleh asupan gula dari makanan yang “dari sononya” memang sudah manis, seperti buah-buahan. Gula olahan – seperti gula pasir, gula merah, gula batu, dan pemanis lainnya – merupakan produk teknologi yang idealnya tidak dikonsumsi sehari-hari. Kemampuan tubuh dalam menerima gula sangat terbatas. Lonjakan zat gula di dalam darah – apa pun bentuknya - secara otomatis akan memerintahkan tubuh untuk mengeluarkan hormon insulin. Pada dasarnya, insulin ini memang bertugas mulia, yaitu menjaga agar kadar gula darah di dalam tubuh kita tetap berada pada level yang aman. Namun lonjakan gula yang tinggi akan membuat produksi insulin meroket ketika berusaha menekan kadar gula, dan tubuh menyimpan hasil olahannya di dalam hati.

Sayangnya, daya tampung hati bersifat terbatas. Sementara bila makanan jenis ini dikonsumsi secara terus-menerus, kelebihan kadar gula tersebut akan diubah menjadi tumpukan lemak. Sel-sel lemak ini bersifat menarik asam arakidonat (AA), sebagai bahan baku terbentuknya eicosanoids, sejenis hormon peradangan. Mekanisme tersebut memicu timbulnya peradangan di tingkat sel, yang memancing terbentuknya cytokine, protein radang yang mampu menembus masuk ke aliran darah, beredar ke seluruh tubuh, dan menimbulkan bermacam-macam penyakit, mulai dari menurunnya kekebalan tubuh, obesitas, alergi, hipertensi, diabetes, gangguan jantung, hingga kanker.

4. Susu bukan asupan wajib
Pada hakikatnya, susu merupakan makanan sementara yang diciptakan Tuhan untuk manusia, ketika gigi dan sistem pencernaannya belum cukup sempurna. Ada banyak alasan medis mengapa ASI hanya dianjurkan hingga anak berusia dua tahun. Mulai usia dua tahun, gigi manusia mulai komplit, enzim-enzim di sepanjang saluran pencernaan telah siap, dan organ-organ di dalamnya juga sudah kuat untuk mengonsumsi makanan padat. Sebaliknya, pada saat yang sama, sebagian enzim yang bertugas mencerna susu sudah tidak bekerja secara optimal lagi, bahkan pensiun. Salah satunya adalah laktase, enzim pencerna laktosa (zat gula yang terdapat dalam susu mamalia).

Beberapa gejala yang sering muncul saat minum susu, seperti mual, muntah, perut bergemuruh, kembung, diare, atau bentuk alergi lain, merupakan sinyal yang menandakan ketidakmampuan tubuh dalam mencerna laktosa. “Menipisnya stok enzim laktosa saat manusia beranjak dewasa, pada hakikatnya merupakan cara alam untuk mengatakan bahwa susu bukan makanan orang dewasa,” jelas Dr Tan.

5. Cukup minum air putih
Menurut Fereydoon Batmanghelidj, MD, dokter asal Australia yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti pentingnya air bagi manusia, tubuh kita terdiri dari triliunan sel yang berbahan dasar air. Di dalam sel, air menempati porsi dua per tiga dari jumlah yang ada. Sepertiga sisanya berada di luar sel, di antaranya berupa cairan otak, cairan mata, cairan hidung, dan cairan pada saluran pencernaan. Sistem metabolisme di dalam tubuh bisa bekerja normal apabila air –baik di dalam maupun di luar sel tercukupi.

Air tersebut menjadi modal utama untuk membangun sel, mengangkut oksigen dan zat nutrisi untuk didistribusikan ke seluruh sel, menjadi modal bagi enzim-enzim di dalam tubuh dalam memelihara dan mencegah penuaan dini pada sel, ikut mengatur suhu tubuh, menjaga agar darah tidak mengental, melindungi organ-organ terhadap guncangan, juga melumasi persendian agar tidak mudah patah. Kecukupan air juga menentukan tersedianya elektrolit bagi tubuh; mencetuskan reaksi listrik yang membuat tubuh mempunyai energi untuk melangsungkan proses tumbuh kembang serta beraktivitas secara normal. Kurang minum air putih membuat fungsi organ menurun yang berlanjut pada melemahnya sistem kekebalan tubuh. Secara umum, kecukupan cairan bisa ditandai dengan warna air seni yang jernih dan tidak berbau tajam.

6. Jangan malas bergerak
Sama halnya dengan proses pencernaan, bergerak merupakan hukum alam yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Bayangkan saja, sejak  diciptakan dari pertemuan sel sperma dan sel telur, kita tidak pernah berhenti bergerak. Mulai dari membelah diri, bergulir sepanjang saluran telur, dan ketika sudah menjadi janin, kita bergerak secara intuitif dalam cairan ketuban. Selama proses kelahiran secara alamiah, kita pun bergerak keluar dari liang persalinan, menunaikan refleks-refleks primitif, dan merayap menuju puting susu ibu. “Rangkaian kemampuan gerak selanjutnya seperti menegakkan kepala, berguling, mengangkat tubuh, duduk, merangkak, hingga berdiri dan berjalan ini tidak boleh berhenti pada usia dewasa,” tegas Dr Tan.

Di dalam tubuh kita sendiri pun; aliran darah, aliran getah bening, hormon, enzim, cairan otak, impuls saraf, semuanya selalu bergerak. Sistem limfatik tubuh yang berperan besar dalam menjaga sistem imunitas dan metabolisme hanya bisa berfungsi kalau kita bergerak dengan baik. Dengan terus bergerak, kita melalui banyak proses “mengalami”. Pengalaman inilah yang membuat otak teraktivasi, menciptakan banyak reaksi biokimia yang membuat proses antiaging berjalan secara alamiah. Itu sebabnya, bergerak disebut-sebut penanda adanya kehidupan.

7. Jalan keluarnya, ada di dalam
Keberadaan manusia sebagai makhluk fisik tidak mungkin dipahami secara terpisah dari apa yang dipikirkan dan dirasakan. Deepak Chopra dalam bukunya Healing the Heart: The Complete Mind-Body Programme for Overcoming Heart Disease, mengatakan bahwa setiap bagian dari tubuh fisik kita ditentukan oleh pemikiran, perasaan, serta kondisi spiritual. Saat kita sedang “punya pikiran”, mengalami masalah emosi, atau ada aspirasi secara spiritual yang terhambat, kerja organ dan keseluruhan fungsi sistem tubuh akan terpengaruh.

Oleh sebab itu, setelah merunut akar masalah; bagaimana cara berpikir kita selama ini, seperti apa cara kita memandang “masalah”, dan energi seperti apa yang kita kita berikan pada sel-sel tubuh sebagai makanan mereka sehari-hari, seringkali gangguan kesehatan tidak selalu memerlukan obat dari luar. Kita hanya perlu mengolah keterampilan untuk lebih peka terhadap isyarat tubuh, mendengarkan suara hati, dan menjembatani tubuh fisik, emosi, serta spiritual menjadi satu kesatuan yang selaras. Caranya, bisa melalui meditasi, yoga, taichi, dan menjadikan nilai-nilai ibadah sebagai amalan sehari-hari, bukan sekadar ritual.

 

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found