logo web baru

BROWSING: Sosok

Jana Sandra

20 May 2017 0 comment
Jana Sandra Jana Sandra (YDew)

Pejuang bagi Kaum Dhuafa

“Ada kepuasan bathin ketika saya berhasil membantu orang lain yang membutuhkan, do’a dari orang yang membutuhkan itu sudah cukup buat saya. Selalu bersyukur dengan apa yang kita dapat itu akan menjadi spirit dan feedback yang positif untuk diri sendiri baik rohani dan jasmani”

Wanita yang bekerja sebagai Manager di salah satu Bank pemerintah terbesar di Jakarta ini selalu mempunyai prinsip untuk membantu sesama. Jana Sandra adalah seorang Founder dari sebuah Rumah Donasi Jana yang bertujuan membantu anak yatim dan masyarakat dhuafa yang membutuhkan. Kegiatannya bukan hanya sekedar bakti sosial tapi fokus dalam program pendidikan, sosial, kesehatan, bencana alam, budaya, agama dan juga lingkungannya.

Jana yang sudah hampir 5 tahun meluangkan masa mudanya dengan kegiatan sosial dan membangun Rumah Donasi Jana sebagai bentuk kepeduliannya kepada masyarakat yang membutuhkan. Berprofesi sebagai dosen dan terkadang diminta untuk menjadi pembicara di beberapa acara seminar tentang kewirausahaan, Jana selalu menyempatkan diri untuk mencari warga yang membutuhkan dengan cara bergerilya ke pelosok-pelosok desa di sekitar Bogor dan Jawa Barat.

Kegiatannya ini dimulai pada tahun 2010, dimana pada saat dirinya kuliah S2, ada salah seorang teman SMAnya yang mengajaknya untuk memberikan santunan di daerah Jakarta dan mendapat respon yang cukup bagus. “Secara mendadak saya menyebarkan beberapa amplop kepada teman-teman saya, dan mendapat respon yang cukup bagus. Pada waktu itu terkumpul 1,3 juta. Sempat kaget juga karena sifatnya dadakan, selang satu hari saya sumbangkan semuanya ke panti asuhan”, kenangnya.

pic 2

Akhirnya dibentuklah komunitas pertamanya yang bernama “Help us to Help” yang beranggotakan 5 orang dengan menjalankan beberapa program seperti pengumpulan baju-baju bekas dengan mengadakan bazaar, di daerah Bekasi. Hasil pertama kali komunitas tersebut kemudian di sumbangkan kepada pengamen yang mempunyai anak asuh sebanyak 6 orang. Kondisi pada waktu itu Jana dan kawan-kawan masih menggunakan uang pribadi untuk membantu, belakangan makin merasa kesulitan dikarenakan permintaan untuk meminta bantuan perlahan mulai berdatangan.

Dengan memanfaatkan fasilitas dari BBM, Jana memcoba membagikan broadcast kepada teman-temannya, sampai tahun 2011 dia melakukan jemput bola dengan mengambil barang yang akan disumbangkan. Seiring berjalannya waktu, salah satu teman di komunitasnya terkena kanker serviks, kegiatanyapun  vakum dan mulai tersendat, beberapa temannya juga mulai mempunyai kesibukan masing-masing.

Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan sendiri dengan mendirikan Rumah Donasi Jana di tahun 2012. Kegiatan yang rutin dilakukan adalah menyantuni masyarakat dhuafa, anak yatim, janda dan lansia dalam bentuk bakti sosial dan kegiatan lainnya. Dari situ saya mulai berkenalan dengan ustadz-ustadz yang berada di Jawa Barat, dan mulai rutin jalan kesana serta datang sendiri untuk memberikan santunan. Aktifitas itu dilakukannya hampir seminggu 3 kali, selepas pulang dari kantonya.

Jana juga bersinergi dengan komunitas lainnya untuk melakukan aksi sosial di setiap daerah yang Ia kunjungi. Seperti Bantu Berjamaah, Kamera Lubang Jarum Indonesia, Goodlife Society, HMC Bogor, Garuda KPP RI Cabang Bogor, Pinhole Bekasi, Komunitas Fotografi Bekasi, Rumah Pohon Activity (RPA), Komunitas Sukses Mulia (KSM) Bogor, Yun Akupuntur, Swaha Spa dan lainnya.

Sebelum bergabung dengan beberapa komunitas, dana yang saya dapatkan adalah dari dana saya pribadi dan beberapa sumbangan dari teman-teman saya. “Kegiatan donasi pada waktu itu hanya berupa santunan, dan misalnya ada yang mau menyumbang ponpesnya untuk renovasi misalnya, baru kita salurkan. Dan memang masalahnya ustadz-ustadz ini akhirnya saya banyak jalan kesana karena mereka tidak punya rekening, jadi mau gak mau harus jalan”, jelas Jana.

Selain santunan dalam aksi tersebut Jana meminta masing-masing komunitas mengaplikasikan bidang yang mereka geluti untuk dibagikan kepada masayarakat desa yang dikunjungi. Misal, Rumah Pohon Activity yang akan mendongengkan cerita kepada anak-anak di Desa tersebut, Komunitas Fotografi Bekasi dan Pinhole Bekasi yang mengajarkan anak-anak bagaimana cara membuat Kamera sendiri dari bahan bekas yang ada di sekelilingnya, dan lain-lain.

Sudah beberapa kali menyelenggarakan bakti sosial, di tahun 2015 Jana sempat di vonis terkena  TB Paru dan juga tumor. Tidak hanya disitu, penderitaan Janapun bertambah dengan kondisi sakit, ia terkena stroke.

“Awalnya saya tidak menyangka terkena stroke, ternyata saya yang sering terkena sakit kepala yang terkadang tidak pernah saya gubris, setelah di MRI baru kelihatan bahwa darah di  kepala sudah menutupi sebagian kepala saya dan sudah ada penyumbatan. Dalam kondisi saya seperti itu saya tetap menjalankan aktifitas saya, karena saya minta istirahat dari kegiatan  kantor tapi tidak diberikan”, ujar Jana.

pic 3

Ditengah sakit yang di deritanya, wanita ini tak lantas mengenal kata menyerah. Berobat ke salah seorang dokter tentara yang memintanya untuk selalu aktif membuatnya tak pantang menyerah. Iapun tetap melakukan aktifitasnya menyalurkan bantuan bagi yang membutuhkan. Perlahan secara berangsur-angsur penyakit yang dideritanya pun mengalami kemajuan, penyakit yang dideritanya berangsur sembuh dan tumor yang dideritanya hilang.

“Itu seperti gift buat saya, karena saya percaya apapun yang kita lakukan karena ikhlas niatnya membantu untuk orang lain, maka kita akan mendapatkan sisi positif dari hal tersebut”, ujar Jana.
Intinya kita minimal harus berbagi dengan orang lain, harus berani menyedekahkan sesuatu yang kita sayangi, karena sewaktu-waktu Allah akan mengambil sesuatu yang kita sayang dengan jalanNya. Intinya berdoa dan ikhlas kita jalani”, tambah Jana.

Inilah sosok Jana Sandra seorang pahlawan di bidang sosial. Cerminan sosok wanita yang kuat namun juga lembut dan suka berbagi. Sosok yang mengatakan bahwa sebagai Wanita Indonesia harus dapat berbagi sekecil apapun, karena saat ini masih banyak wanita di kalangan menengah ke bawah yang berada pada kondisi serba kekurangan terutama dalam hal pendidikan dan lapangan pekerjaan. Adanya akses  kesehatan serta pendidikan yang tidak merata yang menyebabkan tidak adanya keseteraan dalam kehidupan sosial. Oleh sebab itu mari kita sama-sama lebih peduli terhadap sesama agar wanita Indonesia semua dapat merasakan kesuksesan dan paling tidak dapat setara hidupnya dengan kalangan menengah ke atas, tutup Jana.

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found